Ini adalah hari istimewaku. Setidaknya itulah yang aku yakini bertahun-tahun lamanya sejak hari ini tertulis sebagai hari kelahiran pada lembaran riwayat kehidupanku. Namun selama 18 tahun ini tidak pernah ada yang istimewa. Semua berlalu seperti biasanya, sekedar ucapan-ucapan selamat dan doa yang mereka layangkan untukku. Aku hanya tersenyum berterima kasih dan bersyukur. Aku telah terbiasa melawati hari yang "katanya" spesial ini berlalu tanpa sedikitpun kata spesial terbesit dihati. Tidak ada pesta, tidak ada kado, bahkan sekedar ucapan selamat dari ayah dan ibu.
Sempat terfikir untuk mengapresasikan pertambahan usia ini seperti teman-teman yang lain, namun akhirnya logikaku mengalahkannya. Ditambah lagi dengan adanya larangan agama tentang hal itu.
Langit senja mulai menyapa. Penat pun mulai menggelantungi. Tak terlihat lagi pancaran semangat diwajahku. Kusam, kusut, dan sangat lusuh. Hampir duabelas jam aku berada di kampus dan sudah enam jam aku hanya berkutat dengan laptop ini. Entah apa yang ku cari. Diruangan ini, puluhan kaki telah mondar-mandir tidak karuan. Ribuan kata telah mengambang di udara, alunan musik berdentam saling beradu dan gelagak tawa menggema dari rongga mulut tuannya. Tak ku pedulikan. hanya sesekali menoleh dan menggerakkan bola mata ketika ada hal yang menarik atau hanya agar tak terlihat seperti makhluk arogan yang tak peduli lingkungan.
Aku berusaha fokus pada kegiatanku.Tugas-tugas dan tugas. Pikiranku seakan ingin memberontak. Kali ini hatiku yang melunturkannya. Masih ada waktu dan aku mampu. Aku berusaha tersenyum demi mengembalikan sinar diwajahku dan mengembalikan semangatnya, perlahan. Kembali ku tatap laptop di depanku dan jemariku mulai menari diatasnya. Hingga akhirnya kembali ku putuskan untuk berenti. Akan ku lanjutkan nanti. sekali lagi hatiku berargumen. Aku menyandarkan tubuhku, menarik napas dan mulai mengangkat wajahku. Aku paksakan untuk ikut bergabung dalam permainan teman-temanku. Tidak, mungkin lebih tepatnya memperhatikan mereka. Aku masih mengumbar senyum sebagai balasan atas ajakan teman-temanku untuk mentraktir mereka. Ahh,,, aku akhirnya tersenyum lega, terima kasih ya Allah. aku masih diberi umur dan juga teman-teman yang baik seperti mereka. Aku juga bersyukur telah dilahirkan oleh ibu dan dibesarkan bersama ayah meskipun detik ini aku tak bersama mereka. Aku yakin mereka tak pernah membuang namaku disetiap doa dan perjalanan mereka.
Sudah 18 tahun ya?? Sebuah pertanyaan yang ku lemparkan untuk diriku dan tak memerlukan jawaban. Aku mulai menerawang kedalam slide-slide memoriku. Sepertinya belum ada yang istimewa. Aku belum pernah mendengar ayah dah ibu memuji atas prestasi atau apa yang telah ku lakukan. Bahkan teman-teman semasa SMA-ku lebih sering mengungkapkan tingkah burukku yang merugikan mereka. Sebuah project yang besar dan memerlukan banyak perjuangan untuk memberikan balasan kepada ayah dan ibu, juga kepada semua teman-temanku atas semua kasih sayang yang telah mereka berikan. Tiba-tiba saja aku jadi merindukan mereka semua. Ingat masa-masa SMA yang penuh warna, ingat candaan teman-teman sepermainanku, dan yang paling ingin ku lakukan adalah memeluk ayah dan ibu yang selama 18 tahun ini tidak pernah sekalipun aku melakukannya. seandainya aku bisa melakukannya.
Sempat terfikir untuk mengapresasikan pertambahan usia ini seperti teman-teman yang lain, namun akhirnya logikaku mengalahkannya. Ditambah lagi dengan adanya larangan agama tentang hal itu.
Langit senja mulai menyapa. Penat pun mulai menggelantungi. Tak terlihat lagi pancaran semangat diwajahku. Kusam, kusut, dan sangat lusuh. Hampir duabelas jam aku berada di kampus dan sudah enam jam aku hanya berkutat dengan laptop ini. Entah apa yang ku cari. Diruangan ini, puluhan kaki telah mondar-mandir tidak karuan. Ribuan kata telah mengambang di udara, alunan musik berdentam saling beradu dan gelagak tawa menggema dari rongga mulut tuannya. Tak ku pedulikan. hanya sesekali menoleh dan menggerakkan bola mata ketika ada hal yang menarik atau hanya agar tak terlihat seperti makhluk arogan yang tak peduli lingkungan.
Aku berusaha fokus pada kegiatanku.Tugas-tugas dan tugas. Pikiranku seakan ingin memberontak. Kali ini hatiku yang melunturkannya. Masih ada waktu dan aku mampu. Aku berusaha tersenyum demi mengembalikan sinar diwajahku dan mengembalikan semangatnya, perlahan. Kembali ku tatap laptop di depanku dan jemariku mulai menari diatasnya. Hingga akhirnya kembali ku putuskan untuk berenti. Akan ku lanjutkan nanti. sekali lagi hatiku berargumen. Aku menyandarkan tubuhku, menarik napas dan mulai mengangkat wajahku. Aku paksakan untuk ikut bergabung dalam permainan teman-temanku. Tidak, mungkin lebih tepatnya memperhatikan mereka. Aku masih mengumbar senyum sebagai balasan atas ajakan teman-temanku untuk mentraktir mereka. Ahh,,, aku akhirnya tersenyum lega, terima kasih ya Allah. aku masih diberi umur dan juga teman-teman yang baik seperti mereka. Aku juga bersyukur telah dilahirkan oleh ibu dan dibesarkan bersama ayah meskipun detik ini aku tak bersama mereka. Aku yakin mereka tak pernah membuang namaku disetiap doa dan perjalanan mereka.
Sudah 18 tahun ya?? Sebuah pertanyaan yang ku lemparkan untuk diriku dan tak memerlukan jawaban. Aku mulai menerawang kedalam slide-slide memoriku. Sepertinya belum ada yang istimewa. Aku belum pernah mendengar ayah dah ibu memuji atas prestasi atau apa yang telah ku lakukan. Bahkan teman-teman semasa SMA-ku lebih sering mengungkapkan tingkah burukku yang merugikan mereka. Sebuah project yang besar dan memerlukan banyak perjuangan untuk memberikan balasan kepada ayah dan ibu, juga kepada semua teman-temanku atas semua kasih sayang yang telah mereka berikan. Tiba-tiba saja aku jadi merindukan mereka semua. Ingat masa-masa SMA yang penuh warna, ingat candaan teman-teman sepermainanku, dan yang paling ingin ku lakukan adalah memeluk ayah dan ibu yang selama 18 tahun ini tidak pernah sekalipun aku melakukannya. seandainya aku bisa melakukannya.






0 komentar:
Posting Komentar