Bisnis
memang mampu menjanjikan hasil yang sangat menggiurkan. Tetapi pada hakikatnya
tidak semudah apa yang kita fikirkan. Bahkan bagi kebanyakan orang memulai
bisnis merupakan sebuah tindakan besar yang perlu perencanaan atau mungkin
keahlian khusus. Benarkah seperti itu? Memang argumen tersebut tidak bisa
dikatakan sebagai sebuah kesalahan. Namun dibalik itu semua, kekuatan paling
besar adalah usaha. Dengan adanya niat sebagai modal, keberanian selaku langkah
awal, dan usaha menjadi tiang yang tak bisa disingkirkan.
Persaingan dunia bisnis juga
menjadikan sebagian orang urung niat untuk memulai bisnis, bahkan gulung
tikarnya pebisnis yang tengah berkembang. Sehingga diperlukan bisnis yang bisa
memiliki tafsiran umur panjang atau bisa dikatakan tidak akan pernah mati
sampai kapan pun dan akan tetap diincar pelanggan. Pastinya untuk mengetahui
itu semua anda harus mampu membaca pasar atau melihat peluang bisnis. Pernahkah
anda memperhatikan lingkungan anda? Lingkungan area sekolah dan kampus memiliki
peluang untuk mendirikan photo copy, kedai makan atau kos-kosan mahasiswa. Area
perumahan berpeluang didirikannya minimarket danlain sebagainya.
Dalam mencari dan memanfaatkan
peluang bisnis diperlukan modal berupa kemampuan diri. Beberapa hal mendasar
berikut ini menjadi pegangan anda untuk mengambil keputusan dalam mencari dan
melihat peluang bisnis:
a.
pengetahuan
semakin
banyak informasi yang dimiliki maka semakin banyak peluang yang bisa dilihat
dan dipilih untuk dijalankan sesuai kemampuan.
·
Pengetahuan dasar yaitu
pengetahuan yang mencakup hal-hal umum, biasanya tidak memerlukan waktu yang
lama untuk mempelajarinya, misalnya: mencuci, memasak · Pengetahuan menengah yaitu pengetahuan yang diajarkan berulang-ulang dalam beberapa waktu. Misalnya mengoperasikan komputer, menyetir mobil
· Pengetahuan khusus(ahli) yaitu membutuhkan pelatih, guru atau pembimbing dibidang keahliannya. Misalnya dokter, pelukis
b.
Mental
Mentalitas
merupakan faktor utama untuk mencapai sukses dalam menjalankan bisnis. Mental
juga identik dengan faktor emosional.
c.
Attitude
Faktor
yang membentuk mentalitas adalah sikap. Apa yang ada dalam fikiran dan benak
seseorang maka seperti itulah keadannya. Lingkungan akan merespon pikiran
manusia. Bertindaklah dengan baik dan jangan takut memulai.
Masih belum mampu mendapatkan ide
produk bisnis anda? Kalau begitu ini adalah sebuah tawaran bisnis yang memiliki
peluang yaitu bisnis makanan. Bisnis yang akan tetap eksis diantara menjamurnya
bisnis lain yang kian bersaing. Bisnis yang akan terus berkembang dan dicari
oleh konsumen selama manusia masih hidup di dunia ini.
Selain
itu, usaha
makanan merupakan salah satu peluang bisnis yang bisa dilakukan siapa saja.
Usaha makanan juga sangat cocok untuk dilakukan dari rumah. Untuk para ibu
rumah tangga atau anda yang tidak suka keluar rumah untuk bekerja, anda bisa
memulai usaha makanan dari rumah. Ada ragam pilihan dan juga keuntungan yang
bisa anda dapatkan.
Jika anda, memang tertarik dengan
usaha makanan ini, berikut adalah tips untuk anda untuk memilih usaha makanan
dari rumah:
1. Pasar
Sebelum memilih produk yang akan
anda jual dalam usaha makanan anda, ada baiknya anda melihat pasar yang akan
anda tuju. Kira-kira, produk makanan seperti apa yang pasar perlukan. Selain
lezat orang kini lebih memilih praktis dan juga sehat. Maka pastikan bahwa
produk yang anda jual memiliki dua syarat tersebut.
2. Modal
Sebelum anda memulai usaha makanan
anda, pastikan juga bahwa anda memiliki modal yang sesuai dengan jenis usaha
makanan yang akan anda buka. Juga perhatikan pada fokus usaha makanan anda,
jangan pernah setengah-setengah. Misal, anda harus memiliki satu hal yang
istimewa yang akan diingat dan dicari oleh pelanggan anda. Bisa jadi sajian
menunya yang sangat lezat, tempat yang istimewa dan khas, atau hiburan yang
juga termasuk di tempat anda. Akan tetapi jika anda memiliki modal terbatas,
maka pastikan anda bisa menentukan menu paling sesuai untuk usaha makanan anda.
3. Jenis
Ada banyak jenis usaha makanan yang
bisa anda lakukan dari rumah. Mulai dari usaha katering hingga makanan kering
juga kue basah. Kuliner khas daerah bisa menjadi referensi sebagai jenis makanan
yang akan dibangun. Kuliner jenis ini memiliki nilai ekonomis yang menjanjikan
dan mampu survive di pasar. Sesuatu yang unik seperti resep keluarga yang turun
temurun juga memiliki nilai jual. Keunikan rasanya pasti menjadi magnet
berdatangannya para pelanggan.
Jika telah mampu menentukan jenis
makanan yang sesuai. Selanjutnya yang harus anda fikirkan adalah pengelolaan
bisnis tersebut agar eksis dan mampu mengait banyak pelanggan. Sesuatu yang
perlu diperhatikan yaitu:
a. Parking lot area
Tempat
yang berpotensi mengundang pelanggan untuk datang ke tempat pemasaran. Perlu
diperhatikan juga lahan yang luas sebagai tempat parkir yang mampu menampung
banyak pengunjung sekaigus.
b. Placement
Seperti
yang telah dijelaskan sebelumya, bisnis kuliner harus mengikuti pangsa pasar.
Bila terletak di area kampus, maka harus mengikuti pangsa pasarnya yaitu
mahasiswa yang cenderung memiliki passion terhadap makanan yang banyak, lezat,
sehat dan murah.
c. Designe place
Pada
umumnya pelanggan datang bukan sekedar untuk makan dan minum tetapi juga
suasana. Setting ruangan dan suasana yang nyaman akan membuat pelanggan senang
berkunjung.
d. Price
Semakin
murah semakin laris? Tentu tidak. Makanan yang terlalu murah terkadang
menimbulhan pertanyaan sendiri bagi para pelanggan. Seperti sehatkah?
Higieniskah? Atau mungkin terhadap bahan dari makanan tersebut. Sering tidak
bisa dihindari misalnya kelangkaan barang atau perubahan harga komoditi.
Contohnya harga cabai yang tiba-tiba menanjak. Pengurangan rasa pedas pada
makanan akan membuat konsumen enggan membuang uang. Mempertahankan rasa tanpa
mengurangi kualitas memiliki nilai jual masa depan. Bukankah konsumen juga
manusia dan dapat mengerti keadaan?
e. Service
Ini
adalah sesuatu yangpaling mudah di ucapkan namun sulit dilaksanakan karena
menyangkut situasi dan kondisi karyawan, budaya perusahaan (corporate culture),
dan nilai-nilai perusahaan (corporate value). Yang perlu diingat adalah
konsumen tidak hanya sekedar mencari menu makanan saja tetapi juga suasana.
Penggunaan karyawan sebagai pramusaji harus lebih diperhatikan. Sebagai owner
harus menciptakan suasana yang nyaman terlebih dahulu kepada karyawan.
Selanjutnya perlu adanya training berkala untuk meningkatkan pelayanan terhadap
pelanggan. Prinsipnya, berikan senyuman yang tulus, tatapan mata bersahabat,
kesediaan membantu konsumen setiap saat, gunakan magic word seperti maaf,
tolong, silahkan dan sebagainya, menerima komplain, serta selesaikan transaksi
dengan cepat dan tepat.
f. Taste
Bahan
baku yang baik dan cara meramu atau mengolah yang baik akan melahirkan rasa
yang lezat. Kuncinya adalah jangan terjebak pada asumsi pribadi. Rasa makanan
yang dapat diterima diseluruh pelosok negeri adalah memenuhi unsur pedas
(dengan berbagai variasi), sedap (asin sedang, tidak terlalu manis), rasa khas
rempah-rempah yang merasuk merata didalam bahan baku makanan.
Selain itu, ada beberapa tantangan
yang harus dipersiapkan penanganannya:
1.
Risiko terbesarnya ialah saat makanan Anda tidak cepat laku
dan akhirnya basi atau tidak layak konsumsi. Biasanya ini biasa terjadi diawal
pergerakan bisnis.
2.
Tingkat persaingan usaha semacam ini sangat tinggi. Namun
jangan kuatir, nilai positif yang dimiliki dari penerapan prinsip-prinsip
diatas mampu menjadikan usaha tetap bergerak.
3.
Tidak ada yang bisa memastikan jumlah permintaan setiap
harinya. Bisa meleihi target atau bahkan tidak sesuai harapan. Konsisten dan
ketekunan akan menghilangkan nilai dan pandangan jelek dari hal ini.
Berfikirlah panjang kedepan. Jangan hanya melihat jangka pendeknya.
Akhirnya
telah terpenuhi semua informasi yang berkaitan dengan bisnis kuliner. Bila
diterapkan dengan benar maka bisnis kuliner tersebut akan memiliki daya saing
yang tinggi. Satu hal yang penting saat ini adalah memulai. Bergerak untuk
beraksi dan tetap berusaha.
Tugas lingkungan Bisnis (12.02.8183)
STMIK AMIKOM Yogyakarta 2012/2013
Pengusaha muslim, ekonomi
krisis, bisnis kuliner laris, edisi 15. Volume 2/Maret 2011
www.google.com






0 komentar:
Posting Komentar